Minggu, 08 Maret 2015

Syiah VS Wahabi


Habib Muhammad Rizieq Syihab
Imam Besar FPI



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rosuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rhm (wafat : 1.132 H) dalam kitab "Tatsbiitul Fu-aad" membahas tuntas tentang sikap Kaum Roofidhoh (-Jamaknya : Rowaafidh-) yang selalu melecehkan Shahabat Nabi SAW dengan "dalih" membela Ahli Bait Nabi SAW, dan Kaum Naashibah (-Jamaknya : Nawaashib-) yang sering melecehkan Ahli Bait Nabi SAW dengan "dalih" membela Shahabat Nabi SAW.

Dan dalam juz 2 halaman 227 kitab tersebut, Imam Al-Haddad rhm menyatakan tentang Roofidhoh dan Naashibah :

" بعرة مقسومة نصفين "

"Kotoran Unta yang dibelah dua."

"Roofidhoh" dan "Nawaashib" adalah musuh bebuyutan, sepanjang sejarah tidak pernah akur, bagaikan air dan minyak, tidak pernah bisa bersatu. Satu sama lainnya saling mengkafirkan, bahkan hingga kini kedua belah pihak saling bernafsu untuk memerangi dan membunuh pihak lainnya. 

Lihat saja "Konflik Berdarah" di Iraq dan Syria saat ini, yang telah menjadi "Tragedi Kemanusiaan" yang sangat memilukan dan menyayat hati muslim mana pun yang menyintai "Wihdah Islaamiyyah".

Bagi Roofidhoh bahwa Nawaashib lebih berbahaya daripada Yahudi mau pun Nashrani. Dan bagi Nawaashib justru Roofidhoh lah yang lebih berbahaya daripada Yahudi dan Nashrani. 

Baik Roofidhoh mau pun Nawaashib sama-sama anti Dialog dan Anti Toleransi Antar Madzhab Islam. Mereka selalu menolak bahkan merusak semua upaya pemersatuan umat Islam
sepanjang zaman.

Mereka lebih suka perang sesama muslim daripada perang melawan Zionis dan Salibis Internasional. Mereka lebih suka membunuh sesama muslim daripada memerdekakan Palestina dan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman Israel.

Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji'uun ...

SYIAH dan ROOFIDHOH

Memang tidak semua Syiah adalah Roofidhoh, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Syi'ah bersikap Roofidhoh.

Harus kita akui bahwa di kalangan Ulama Syiah tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Syiah tersebut tenggelam dalam fanatisme Awam Syiah yang cenderung bersikap Roofidhoh.

Fanatisme Awam Syiah tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Syi'ah dan berbagai pernyataan Ulama mereka sendiri yang menghina Shahabat Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA. Bahkan isteri Nabi SAW seperti Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA pun tak luput dari penghinaan mereka.

Salah satunya, lihat saja kitab "Al-Anwaar An-Nu'maaniyyah" karya Syeikh Ni'matullaah Al-Jazaa-iriy yang isinya dipenuhi dengan hinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW. Bahkan dia mengkafirkan Nawaashib, dan menuduh semua Aswaja yang tidak mengutamakan Sayyiduna Ali RA di atas semua Shahabat sebagai Nawaashib yang Kafir.

Dalam kitab tersebut juz 2 halaman 307 disebutkan :

إنهم كفار أنجاس بإجماع علماء الشيعة الإمامية ،  وإنهم شر من اليهود والنصارى ،  وإن من علامات الناصبي تقديم غير علي عليه في الإمامة ." 

"Sesungguhnya mereka (-Nawaashib-) adalah Kafir dan Najis dengan Ijma' Ulama Syiah Imamiyyah. Dan sesungguhnya mereka lebih jahat daripada Yahudi dan Nashrani. Dan sesungguhnya daripada tanda-tanda seorang Naashibah adalah mendahulukan selain Ali di atasnya dalam Imamah."

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Syiah secara terang-terangan menghina para Shahabat dan Isteri Nabi SAW, seperti :

1. Jalaluddin Rahmat dalam buku "Shahabat dalam Timbangan Al-Qur'an, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan" hal. 7, dan catatan kaki buku "Meraih Cinta ilahi" hal. 404 - 405 dan 493, serta buku "Manusia Pilihan yang disucikan"  hal. 164 - 166.

2. Emilia Renita AZ dalam buku "40 Masalah Syiah" hal.83.

3. Haidar Barong dalam buku "Umar dalam Perbincangan" di hampir semua bab.

Selain itu, masih ada lagi IJABI (Ikatan Jama'ah Ahlul Bait Indonesia) yang dinakhodai oleh Jalaluddin Rahmat cs yang sering melecehkan Shahabat Nabi SAW dalam aneka seminar dan pertemuan. Bahkan sering melecehkan Islam dengan membela aneka Aliran Sesat seperti Ahmadiyah, sehingga patut disebut sebagai "Syiah Liberal".

Syiah Roofidhoh memang secara demonstratif dan konfrontatif serta provokatif menunjukkan kebenciannya kepada Shahabat Nabi SAW, khususnya Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, beserta kedua putri mereka yaitu Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA,

Saking bencinya kepada Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, kalangan Roofidhoh membuat "Doa Dua Berhala" yang isinya melaknat habis kedua Shahabat Mulia Nabi SAW tersebut.

Bahkan mereka haramkan siapa pun dari kalangan mereka diberi nama Abu Bakar atau Umar, atau nama putri keduanya yaitu Aisyah atau Hafshoh.

Karenanya, Aswaja sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya "Syiah Roofidhoh" adalah firqoh yang sesat menyesatkan. 

Apalagi "Syiah Ghulat" yang menabikan atau menuhankan Sayyiduna Ali RA, dan menganggap para Imam mereka sebagai Utusan atau Titisan Tuhan, serta memvonis Al-Qur'an kurang dan tidak asli lagi, maka Aswaja sepakat bahwa Syiah Ghulat adalah Kafir dan Murtad, bukan lagi termasuk Islam.

Ada pun "Syiah Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka bukan Ghulat dan bukan Roofidhoh. Mereka adalah saudara muslim yang harus dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil.

RIWAYAT HADITS SYIAH

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan "penggeneralisiran" semua Syiah pasti Ghulat dan pasti Roofidhoh, sehingga semuanya pasti Kafir dan Murtad atau Sesat. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja. 

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat "Perawi Syiah", tapi bukan dari kalangan Ghulat yang Kafir, sehingga jika "mereka" dikafirkan juga, maka berarti ada "Perawi Kafir" dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu sangat berbahaya, karena bisa menjadi "Bumerang" yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu "Jarh wat Ta'diil" atau oleh "penyusup" yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Syiah dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan buka pernyataan  Imam Adz-Dzahabi rhm tentang "Riwayat Syi'ah" dalam kitab "Mizaanul I'tidaal" juz 1 hal.29 No.2 pada ulasan "Perawi Syiah" bernama "Abaan bin Taghlib" , dan juz 1 hal.53 No.86 pada ulasan "Perawi Syiah" yang bermama "Ibrahim bin Al-Hakam".

Semua pernyataan Imam Adz-Dzahabi rhm tentang "Riwayat Syiah" dinukilkan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rhm dalam kitab "Lisaanul Miizaan" juz 1 hal.103 -104. 

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab-kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti : Ibrahim bin Yazid, Salim bin Abil Ja'di, Al-Hakam bin 'Utaibah, Salamah bin Kuhail, Zubaid bin Al-Harits, Sulaiman bin Mihran, Ismail bin Zakaria, Khalid bin Makhlad, Sulaiman bin Thorkhon dan Sulaiman bin Qorom. Mereka semua adalah Syiah, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

WAHABI dan NAASHIBAH

Memang tidak semua Wahabi adalah Naashibah, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Wahabi bersikap Naashibah.

Memang di kalangan Ulama Wahabi tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Ahli Bait Nabi SAW dalam bentuk apa pun, untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Wahabi tersebut juga tenggelam dalam fanatisme Awam Wahabi yang cenderung bersikap Naashibah.

Fanatisme Awam Wahabi tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Wahabi dan berbagai pernyataan Ulama panutan mereka sendiri yang menghina Ahli Bait Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Ali RA dan isterinya Sayyidah Fathimah RA serta kedua putranya Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA.

Salah satunya, lihat saja kitab "Minhaajus Sunnah" karya Syeikh Ibnu Taimiyyah sang panutan dan rujukan kalangan Wahabi, yang isinya dipenuhi dengan penghinaan terhadap Ahli Bait Nabi SAW. 

Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa imannya Sayyidah Khadijah RA tidak manfaat buat umat Islam. Dan bahwa Sayyidah Fathimah RA tercela seperti orang munafiq. Serta Sayyidina Ali RA seorang yang sial dan selalu gagal, serta berperang hanya untuk dunia dan jabatan bukan untuk agama, dan juga perannya untuk Islam tidak seberapa. 

Ada pun Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA tidak zuhud dan tidak berilmu, serta tidak ada keistimewaannya. Lalu soal pembunuhan Sayyiduna Al-Husein RA hanya masalah kecil, lagi pula dia salah karena melawan Khalifah Yazid yang benar. Dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rhm dalam kitab "Ad-Durorul Kaaminah" juz 1 hal.181 - 182 saat mengulas tentang Ibnu Taimiyyah menyatakan :

"ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم ."

"Dan di antara mereka (-para Ulama-) ada yang menisbahkannya (-Ibnu Taimiyyah-) kepada Nifaq, karena ucapannya tentang Ali sebagaimana telah disebutkan."

Dan dalam kitab "Lisaanul Miizaan", Sang Begawan Hadits ini menyimpulkan :

"كم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدته أحيانا إلى تنقيص علي ."

"Berapa banyak sikap berlebihan (Ibnu Taimiyyah) dalam merendahkan perkataan Roofidhoh terkadang mengantarkannya kepada pelecehan Ali."

Sikap berlebihan Ibnu Taimiyyah pada akhirnya mengantarkannya ke penjara pada tahun 726 H hingga wafat di tahun 728 H. Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakannya di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab Aswaja, yaitu :

1. Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.

2. Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi Bakar rhm.

3. Mufti Syafi'i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.

4. Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Syeikhul Islam Imam Taqiyuddin As-Subki rhm dalam kitab "Fataawaa As-Subki" juz 2 halaman 210 menegaskan :

"وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور".

"Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma' Ulama dan Umara."

Namun, akhirnya Syeikh Ibnu Taimiyyah rhm bertaubat di akhir umurnya dari sikap berlebihan, khususnya sikap "Takfiir", sebagaimana diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi rhm dalam kitab "Siyar A'laamin Nubalaa" juz 11 Nomor 2.898 pada pembahasan tentang Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm.

Namun, sayangnya Wahabi saat ini banyak yang tetap berpegang kepada sikap berlebihan Ibnu Taimiyah yang justru sebenarnya sudah diinsyafinya. Bahkan banyak kalangan Wahabi saat ini yang bersikap "Khawaarij" yang cenderung "Takfiirii" yaitu suka mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka. 

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Wahabi secara terang-terangan menyatakan bahwa Madzhab Asy'ari adalah bukan Aswaja, bahkan Firqoh sesat menyesatkan, antara lain :

1. Yazid Abdul Qadir Jawaz dalam buku "Mulia dengan Manhaj Salaf" bab 13 hal. 519 - 521.

2. Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku "Risalah Bid'ah" bab 19 hal. 295 dan buku "Lau Kaana Khairan lasabaquunaa ilaihi" bab 6 hal. 69.

3. Hartono Ahmad Jaiz dalam buku "Bila Kyai Dipertuhankan" hal.165 - 166.

Selain mereka, masih ada Mahrus Ali yang mengaku sebagai Mantan Kyai NU melalui lebih dari sepuluh buku karangannya secara eksplisit menyesatkan aneka amaliyah NU yang bermadzhab Asy'ari Syafi'i.

Karenanya, Aswaja pun sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya Khawaarij mau pun Naashibah adalah firqoh yang sesat menyesatkan. Jadi, Wahabi yang berpaham Khawaarij dan bersikap Nawaashib juga merupakan firqoh yang sesat menyesatkan.

Ada pun "Wahabi Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka bukan Khawaarij Takfiirii dan bukan juga Nawaashib. Mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil. 

Apalagi mereka masih berpegang kepada sumber hadits yang sama dengan Aswaja, seperti Muwaththo' Malik dan Musnad Ahmad serta Kutubus Sittah, yaitu : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami' At-Tirmidzi, Sunan An-Nasaa-i, Sunan Abi Daud dan Sunan Ibni Maajah, dan kitab-kitab Hadits Aswaja lainnya.

RIWAYAT NAWAASHIB

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan "penggeneralisiran" semua Wahabi pasti Khawaarij Takfiirii atau pasti Nawaashib, sehingga semuanya pasti sesat menyesatkan, apalagi sampai mengkafirkan mereka. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja.

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat "Perawi Khawaarij" dan "Perawi Nawaashib", sehingga jika "mereka" dikafirkan, maka berarti ada "Perawi Kafir" dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu juga sangat berbahaya, karena juga bisa menjadi "Bumerang" yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu "Jarh wat Ta'diil" atau oleh "penyusup" yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Khawaarij dan Nawaashib dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan baca kitab "Al-'Itab Al-Jamiil 'alaa Ahlil Jarhi wat Ta'diil" karya As-Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dengan tahqiq Sayyid Hasan bin Ali As-Saqqoof seorang Ahli Hadits dari Yordania dan ada juga dengan tahqiq DR.Alwi bin Hamid Syihab seorang Dosen Hadits di Universitas Hadromaut - Yaman.

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab- kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti : Umar bin Sa'ad, Zuhair bin Mu'awiyah, Ibrahim bin Ya'qub, Ishaq bin Suwaid,  Tsaur bin Yazid, Hariiz bin Utsman, Hushoin bin Numair, Khalid bin Abdullah, Ziyad bin Jubair dan Ziyad bin 'Alaaqoh. Mereka semua adalah Nawaashib para pembenci Ahli Bait Nabi SAW, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Selain itu, masih ada "Perawi Khawaarij" dari berbagai sektenya seperti Ibaadhiyyah, Azaariqoh, Haruuriyyah dan Ash-Shufriyyah, antara lain : Jaabir bin Zaid, Juray bin Kulaib, Syabats bin Rib'i dan 'Imraan bin Hiththoon. Dan ada juga "Perawi Murji-ah" yaitu Khalid bin Salamah dan "Perawi Qadariyyah" yaitu Tsaur bin Zaid. Mereka semua adalah Non Aswaja, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adill), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

SYAIR IMAM SYAFI'I

Imam Syafi'i RA dalam "Diiwaan" nya pada halaman 20, menyusun beberapa Bait Syair untuk menyindir Roofidhoh yang selalu menuduh para pecinta Sayyiduna Abu Bakar RA sebagai Nawaashib, dan sekaligus juga menyindir Nawaashib yang selalu menuduh para pecinta Ahli Bait Nabi SAW sebagai Syiah Roofidhoh. 

Berikut syairnya :

إذا نحن فضلنا عليا فإننا
               روافض بالتفضيل عند ذي الجهل
وفضل أبي بكر إذا ما ذكرته
               رميت بنصب عند ذكري للفضل
فلا زلت ذا رفض ونصب كلاهما
                بحبيهما حتى أوسّد بالرمل

Jika kami memuliakan Ali maka sesungguhnya kami ..

Menurut orang bodoh adalah Rowaafidh lantaran memuliakannya.

Dan jika aku menyebut keutamaan Abu Bakar ...

Maka aku dituduh Naashibah lantaran memuliakannya.

Maka aku akan tetap selalu menjadi Roofidhoh dan Naashibah sekaligus ...

Dengan menyintai keduanya hingga aku berbantalkan pasir (mati).

ASWAJA

Ahlus Sunnah  wal Jama'ah yang disingkat "Aswaja" adalah bukan Syiah dan bukan juga Wahabi, serta bukan Roofidhoh dan bukan juga Nawaashib.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rhm (w : 973 H) dalam kitab "Az-Zawaajir 'an Iqtiroofil Kabaa-ir" halaman 82 mendefinisikan Aswaja sebagai berikut :

"المراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجماعة الشيخ أبو الحسن الأشعري و أبو منصور الماتريدي ."

"Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah adalah yang dianut oleh dua Imam Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah yaitu Syeikh Abul Hasan Al-Asy'ari san Abu Manshur Al-Maaturiidii."

Dan Imam Al-Murtadho Az-Zabiidii rhm (wafat : 1.205 H) dalam kitab "Ittihaafus Saadah Al-Muttaqiin" juz 2 hal. 6 menyatakan :

"إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية ."

"Jika disebut Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara mutlaq, maka yang dimaksud adalah Kaum Asy'ari dan Kaum Maaturiidii."

Hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanafi mengikuti Madzhab Aqidah Maaturiidi, karena Imam Abu Manshur Al-Maaturiidii rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Abu Hanifah rhm dalam Madzhab Aqidah Maaturiidiyyah yang dibangunnya.

Dan hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Maliki dan Syafi'i, serta sebagian Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanbali mengikuti Madzhab Aqidah Asy'ari, karena Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad, rohimahumullaah, dalam Madzhab Aqidah Asy'ariyyah yang dibangunnya.

Sebagian Ulama Hanbali mengklaim sebagai pengikut Madzhab Aqidah Ahli Hadits dan Atsar yang "dinisbahkan" kepada Imam Ahmad rhm. Mereka mengklaim sebagai Aswaja yang paling asli dan sejati. Kini, pengikut aliran ini banyak mendapat "label" sesuai aneka sebab kaitannya, antara lain :

1. Atsari : Karena mengklaim sebagai pengikut Ahli Atsar.

2. Salafi : Karena mengklaim sebagai Madzhab paling Salaf.

3. Wahabi : Karena menjadikan Pemikiran Tauhid Syeikh Muhammad b Abdul Wahhab sebagai rujukan utama.

4. Khawaarij : Karena sering menyalahkan semua umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka.

5. Takfiirii : Karena sering mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka.

6.  Nawaashib : Karena sering merendahkan Ahli Bait Nabi SAW dengan "dalih" bela Shahabat Nabi SAW, bahkan paling suka berteriak mengkafirkan dan memusyrikkan Ibu dan Ayah Nabi SAW.

7. Musyabbih : Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menyerupakan-Nya dengan Makhluq.

8. Mujassim : Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menjasmanikan Dzat Allah SWT dalam bentuk jasad Makhluq.

KESIMPULAN 

Syiah dan Wahabi bukan "Agama", tapi "Firqoh", sehingga tidak tepat istilah "Agama Syiah" dan "Agama Wahabi", bahkan istilah tersebut terlalu "Lebay".

"Syiah Roofidhoh" dan "Wahabi Nawaashib" adalah Firqoh sesat menyesatkam yang sangat berbahaya, sehingga wajib diwaspadai oleh segenap Aswaja, dan harus dibendung penyebarannya, serta mesti dilawan penistaannya terhadap Ahlul Bait mau pun Shahabat Nabi SAW.

Sedang "Syiah Moderat" dan "Wahabi Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil. 

Ada pun Aswaja adalah Madzhab Pecinta Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW serta Para Salaf yang Sholihin. 

Dan Aswaja adalah Madzhab yang selalu terbuka untuk Peradaban Dialog yang berbasis Ilmu dan Akhlaq, dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai  Madzhab mau pun Firqoh.

Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

Alhamdulillaah, Aswaja adalah "Firqoh Naajiyah" yang berjalan di atas jalan Rasulullah SAW dan Ahlil Baitnya serta Para Shahabatnya


Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...(habibrizieq.com)

Selasa, 03 Maret 2015

Pengajian Eksotis Habib Lutfi bin Yahya


Siapa yang tidak mengenal Habib Lutfi bin Yahya? Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah ini telah menghabiskan hidupnya untuk berdakwah di jalan Allah. Sosoknya begitu melekat dengan nasionalisme, persatuan dan toleransi. Ia senantiasa menyerukan agar putra-putri bangsa ini bersatu padu merawat kebhinekaan NKRI. Terkait jargon-jargon khilafah atau negara Islam yang marak dipropagandakan akhir-akhir ini, ia berpendapat bahwa hal itu hanyalah suatu ilusi.
“Kita perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara – entah apapun namanya, itu tidak efektif. Negara Islam itu hanyalah ilusi, bagaimana mungkin kita menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan Khilafah? Sedangkan memperebutkan satu pulau saja butuh waktu berpuluh-puluh tahun,” jelasnya.
Bagi Habib Lutfi, toh umat Islam saat ini di Indonesia bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Sehingga, jika ada yang kurang, ia mengajak untuk sama-sama memperbaiki. “Jangan beri kesempatan adanya perpecahan sekecil apapun. Jaga NKRI. Sekali mereka tumbuh, maka akan menambah daftar (dari negara-negara yang chaos akibat terorisme) seperti: Afghanistan, Irak, Suriah dan Mesir.
Atas sikapnya yang arif tersebut, tak heran, jika Habib Lutfi senantiasa dikelilingi jamaah yang merindukan tausiah-tausiahnya yang menyejukkan, sebagaimana yang terjadi pada Jumat Kliwon, 20 Februari 2015 di Pekalongan. Pengajiannya, dihadiri oleh ribuan jamaah.
Habib lutfi 3Mengenang Pahlawan, Dzikir dan Nderes
Ada yang berbeda dari pengajian rutin Jumat Kliwon Habib Lutfi bin Yahya di Pekalongan. Tapi justru perbedaannya mengundang keunikan tersendiri. Pada saat yang sama daya tarik pengajian itu terletak pada keunikannya.
Pengajian dimulai pukul tujuh pagi dipimpin langsung oleh Habib Lutfi. Para hadirin pun sudah menanti. Bahkan satu jam sebelum acara dimulai, jamaah sudah berkumpul padat dan berebut di tempat biasa Habib Lutfi memimpin pengajian. Tak lama kemudian Habib Lutfi muncul dan langsung menuju tempat yang sudah disediakan.
Habib Lutfi duduk sama rata di tengah hadirin dan langsung memulai pengajian dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada para guru, kyai, habib, pahlawan dan tokoh-tokoh Islam, baik di level nasional maupun internasional yang jasa-jasanya senantiasa dikenang hingga saat ini.
Acara dilanjutkan dengan dzikir yang dibaca secara serempak dan syahdu yang diikuti oleh ribuan hadirin. Tidak sedikit yang tampak ekstasi. Tidak hanya mulut yang berdzikir tapi tubuh mereka pun bergetar, getaran yang berubah menjadi tarian Ilahi yang begitu eksotis.
Setelah dzikir yang dipimpin Habib Lutfi selesai, acara nderes yang merupakan tradisi pesantren-pesantren tradisional pun disuguhkan kepada para hadirin. Nderes itu menyimak kitab kuning yang kemudian diterjemahkan dengan bahasa Jawa. Bagi yang memahami bahasa Jawa, maka nderes ini merupakan daya tarik tersendiri. Tapi tentu saja, hal ini akan membosankan bagi yang tidak mengerti bahasa Jawa. Sepertinya hal itu disadari Habib Lutfi, kerena setelahnya, ia pun menjelaskan kembali isi kitab tersebut dengan bahasa Indonesia. Saat itu, Habib Lutfi memilih duduk di kursi sehingga jamaah yang telah membludak ke jalan dapat melihatnya.
Habib Lutfi 2Antri untuk Mencium Tangan Sang Ulama
Mencium tangan para ulama merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Dari Zari ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi Muhammad SAW. (HR Abu Dawud)
Atas dasar hadits ini, para ulama mensunnahkan mencium tangan guru, ulama, orang shalih serta orang-orang yang kita hormati. Kata Imam Nawawi dalam salah satu kitab karangannya menjelaskan bahwa mencium tangan orang shalih dan ulama yang utama itu disunnahkan. Sedangkan mencium tangan selain orang-orang itu hukumnya makruh. (Fatawi al-Imam an-Nawawi, Hal 79).
Seperti diketahui, saat ini beredar berbagai fatwa-fatwa dari kelompok Wahhabi yang menganggap ‘cium tangan’ ini sebagai perbuatan yang merendahkan diri kepada selain Allah, sehingga menurut Wahhabi, lebih baik ditinggalkan. Namun meski doktrin ini telah disebarluaskan secara masif, jamaah Habib Lutfi sepertinya tidak terpengaruh. Seusai melakukan nderes, Habib Lutfi memberi kesempatan kepada ribuan para hadirin untuk menyalaminya. Jamaah, baik tua, muda maupun anak-anak, mengantri dengan sabar untuk bisa menyalami Habib Lutfi dengan wajah kerinduan dan ketulusan yang luar biasa. Sungguh, sebuah pemandangan yang sangat eksotis.(LiputanIslam.com)

KALAH TELAK, 5.770 TENTARA ZIONIS ISRAEL TEWAS


Tentara Zionis Israel tewas. (Foto: elshaab)

Stasiun lokal Tv Israel pada  Rabu, 6 Agustus 2014 lalu mengungkapkan,  militer Zionis Israel mengakui, jumlah pasukan elitenya yang tewas dalam perang Gaza kali ini, adalah empat kali lipat dibandingkan saat menyerang Lebanon.
Data Wiki menyebutkan, pasukan Zionis Israel yang tewas dalam Perang Lebanon tahun 2006 berjumlah 121 orang tentara. Jika dihitung empat kali lipat, maka berarti tentara penjajah yang tewas dalam Perang Gaza  sekarang adalah sekitar 484 orang.
Sumber Zionis Israel sendiri mengkonfirmasi kematian pasukannya  berjumlah 70 tentara, namun Hamas mengatakan total tentara Zionis tewas lebih dari 150 orang.
Pada perang-perang sebelumnya, pasukan Zionis sebenarnya juga mengalami nasib serupa, banyak tewas di medan perang darat. Jika ditotal, jumlah pasukan Zionis Israel yang terdata tewas sejak perang-perang sebelumnya sebanyak 5.770 orang !
Sebuah kekalahan telak, pasukan yang konon katanya hebat, dengan peralatan canggih, didukung dana tak terbatas. Ternyata rontok juga di tangan-tangan para pejuang Palestina.
Mantan Penasihat Keamanan Nasional Israel Mayor Jenderal (Purn) Giora Eiland menyatakan, Hamas telah berhasil membangun kekuatan pasukan yang bisa diandalkan sehingga berjaya menyapu serangan darat Israel di Jalur Gaza, Palestina.
“Jalur Gaza ternyata memiliki pasukan yang kuat, dan Israel juga belum mampu sepenuhnya  mencegah roket-roket Palestina yang menyerbu ke kota-kota di Israel,” ujar Eiland.
Tercatat, Brigade Izzuddin Al-Qassam dan Brigade Al-Quds hingga kini telah menembakkan sekitar 3.000 roket dari berbagai jenis, yang menjangkau kota-kota penting Israel, termasuk ibukota  Tel Aviv hingga bandar udara Ben-Gurion.
Ribuan roket inilah yang berhasil membuat 6 juta warga Zionis Israel ketakutan dan masuk ke dalam lubang-lubang persembunyian bawah tanah di berbagai kota. Roket roket tersebut membuat penjajah Zionis Israel tercengang karena tidak pernah menduga sebelumnya.
Menurut Eiland, di lapangan pasukan elite  Israel terutama dari ​​Brigade Givati maupun Brigade Golani, lebih banyak tewas akibat jebakan.
Brigade Givati adalah pasukan infanteri Angkatan Pertahanan Israel dengan baret ungu, berfungsi sebagai kekuatan amfibi.
Sedangkan Brigade Golani adalah pasukan infanteri Israel dengan baret cokelat, merupakan salah satu unit infanteri paling diandalkan, yang terhubung dengan Komando Utara.
Eiland menyayangkan, pejabat militer Israel tidak menyaksikan sendiri bagaimana  kekurangberdayaan pasukannya menghadapi pasukan perlawanan Palestina di Jalur Gaza.
Sementara itu, Menteri Ilmu Pengetahuan Israel, Jacob Perry mengatakan, operasi militer kali ini belum berakhir, karena itu tidak boleh menyebutkan kemenangan bagi Hamas.
Namun demikian ia menunjukkan sikap merendah, menurutnya Pemerintah Israel harus memanfaatkan peluang membujuk pemerintah di wilayah Timur Tengah, khususnya Mesir, Yordania dan Otoritas Palestina, untuk membawa Israel keluar dari perang.
Berikut, rincian data jumlah tentara Zionis Israel yang tewas dalam berbagai pertempuran sejak tahun 1967 hingga 2014 ini.
Perang Enam Hari Israel-Arab tanggal 5 Juni sampai 10 Juni 1967, tentara Zionis Israel tewas berjumlah 779 orang. Lainnya, 2.563 terluka, 15 ditangkap dan 46 pesawat hancur.
Perang Yom Kippur Israel-Arab di Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan, 9-26 Oktober 1973, prajurit Zionis pun sebenarnya hancur. Waktu itu, tercatat 2.656 tentara Zionis tewas, 7.250 terluka, 400 tank hancur, 600 kendaraan lapis baja rusak, dan 102 pesawat hancur.
Perang Israel-Lebanon tanggal 12 Juli – 14 Agustus, 2006, korban di pihak Zionis Israel, 121 orang tentara tewas, dua ditangkap, 628 luka-luka..
Perang Israel-Gaza, 27 Desember 2008-18 Januari 2009, tercatat jumlah pasukan Israel yang tewas : 227 orang, 207 terluka, 47 tank hancur, tiga pesawat tempur rontok, dan satu drone (pesawat tanpa awak) hancur.
Konflik Israel-Palestina secara keseluruhan, sejak1987 sampai 2011, mencatat 1.503 orang tentara Zionis Israel tewas.
Perang delapan hari Israel-Gaza 2012, belum ditemukan data secara pasti dan lengkap. Diduga Israel mengalami kerugian besar sehingga Menteri Pertahanan Israel, kala itu, Ehud Barak, langsung mengundurkan diri karena merasa kalah perang.  Yang tercatat hanya tujuh pesawat tempur Zionis Israel hancur dan satu kapal perang tenggelam di Perairan Gaza.
data-tentara-israel-tewas-300x165Perang Israel-Gaza 2014, diprediksi 484 tentara tewas, sebagian besar pasukan elite. Rata-rata tertembak di bagian kepala.
Jadi, jumlah total pasukan Zionis Israel yang tewas dalam berbagai perang dengan Palestina, tercatat sejumlah : 5.770 tentara.
Akan banyaknya jatuh korban tentara Israel tewas dalam penyerbuan ke Gaza sejak 7 Juli 201r4 lalu,  sudah diprediksi sebelumnya oleh Wakil Menteri Pertahanan Israel, Danny Danon.  Ia melancarkan kritik pedas terhadap keputusan Perdana Menteri (PM) Netanyahu untuk melancarkan serangan ke Gaza. Kritik itu berujung pada pemecatan dirinya dari jabatan Wakil Menteri Pertahanan oleh PM Netanyahu.
Mengaku Kalah
Sejumlah sekitar 300 tentara Israel yang terlibat dalam 51 hari Perang Gaza tahun lalu, dinyatakan mengalami kelumpuhan fisik.
Radio Suara Israel mengungkapkan, selain itu, setelah diadakan pemeriksaan medis terhadap seluruh tentara Israel, sekitar setengahnya mengalami tingkat kecacatan 20%.
Disebutkan bahwa kebanyakan korban mengalami cacat fisik seperti pada tulang, kepala, pendengaran dan tekanan mental.
Dan diperkirakan jumlah para korban kecatatan tentara Israel ini terus bertambah bersamaan dengan banyaknya permintaan wajib militer dari pemerintah Israel sendiri.
PM Israel Benjamin Netanyahu pun akhirnya harus mengakui kekalahannya sebagaimana tercermin dari pernyataannya beberapa hari lalu, bahwa tentara Israel sebenarnya sudah berupaya dalam perang di Jalur Gaza, namun, memang tidak 100 persen berhasil dengan baik.
“Tidak ada jaminan seratus persen berhasil di medan pertempuran, sebuah pertempuran yang sangat sulit,” ujar Netanyahu.
Data lain mengungkapkan, selama Perang Israel-Gaza 2014 lalu, diprediksi 484 tentara Israel tewas, sebagian besar pasukan elite. Rata-rata tertembak di bagian kepala
Sementara itu, Juru Bicara Hamas, Sami Abu Zuhri menyatakan, pasukan Zionis Israel telah gagal mencapai tujuan perangnya di Jalur Gaza, hingga kini Hamas masih tetap berjaya dan memiliki kekuatan untuk melawan Israel.
“Netanyahu telah gagal total di Jalur Gaza, Hamas masih berkuasa dan masih memiliki banyak kekuatan untuk melawan Israel,” kata Abu Zuhri.
Padahal, Hamas baru menggunakan 10% kekuatan militernya. Seperti diungkapkan seorang komandan sayap militer Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Laiht, bahwa pihaknya baru menggunakan 10% dari kekuatan  mereka menghadapi serangan penjajah Zionis Israel pada perang 2014 ini.
“Kami memiliki cadangan yang cukup, dan jumlah ini lebih besar dari yang dibayangkan oleh musuh, kami baru menggunakan 10 persen dari apa yang  kami miliki,” katanya.
Ratusan orang tentara Zionis Israel yang mati konyol  pada perang kali ini, berbanding dengan ribuan warga sipil Gaza yang gugur sebagai syuhada. Jelas menunjukkan kekalahan itu. Zionis yang tewas adalah dari satuan militer yang tugasnya bertempur, sementara korban warga Gaza adalah dari kalangan warga sipil tak berdosa, yang tidak ikut dan tidak mempunyai kemampuan untuk bertempur.
Akibat kekalahan demi kelahan itu, Zionis Israel kebingungan dan kesulitan mencari pasukan pejuang Hamas,  sehingga agresor Israel  pun dengan dalih menyerang pejuang dan persenjataan, secara membabi buta membombardir perumahan penduduk, gedung-gedung sekolah yang juga dijadikan tempat pemngungsian (termasuk milik PBB sekalipun), pasar, bank, kantor media, hingga tempat ibadah masjid.
Bahkan saking begitu takutnya, mungkin khawatir muncul tentara dari dalam kuburan, pemakaman umum pun dibombardir.
Yang pasti, janji Alloh pasti terlaksana, ”Kewajiban kami (Alloh) menolong orang-orang yang beriman”. (Q.S. Ar-Ruum [30] : 47).
Inilah sumber kekuatan terhebat yang tidak dimiliki Israel, tapi dimiliki pejuang-pejuang Palestina, yaitu Allah Yang Maha Gagah Perkasa lagi Maha Besar. Allahu Akbar! Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sejarah Bani Israel Dan Yahudi

Bani Israel
Israel adalah gelar yang diberikan untuk nabi Yakub bin Ishak bin Ibrahim a.s. yang berarti “Hamba/Pasukan Alloh” (Hafidz, h.14). Meskipun gelar itu dikhususkan untuk nabi Yakub namun jika berbicara mengenai bangsa Israel maka sama sekali tidak bisa dipisahkan dari sejarah nabiyullah Ibrahim a.s. karena semua literatur agama telah menetapkan bahwa Ibrahim a.s. adalah bapak panutan bagi semua agama samawi (Ali Imran: 67).
Ibrahim a.s. berasal dari bangsa Smith, satu bangsa yang pada mulanya mendiami Arab Tengah dan Utara kemudian menyebar ke wilayah Babilonia (Irak) dan Asia.
Dengan demikian, bangsa Smith yang masih bermukim di wilayah Arab adalah nenek moyang  bangsa Arab, sedang yang menyebar ke Asia dan palestina adalah nenek moyang bangsa Asyura dan Israel.
Jika ditarik garis keturunannya ke atas adalah: Ibrahim bin Tarikh/Azar (6:74) bin Mahur bin Sarugh bin Rau’ bin Falij bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyid bin Sam bin Nuh bin Lamik bin Mutwasyalah bin Khanukh (Idris a.s) bin Yarad bin Mahlayil bin Qanin bin Anwasy bin Syits bin Adam.
Nabi Nuh setelah diselamatkan dari air bah hijrah ke Makkah bersama pengikutnya dan dimakamkan di sana, sebagaimana disebut dalam hadist riwayat Ibnu Asakir dari Abdurrahman bin Sabith: “Sesungguhnya kuburan nabi Nuh, Hud, Syuaib dan Shaleh terletak di antara Zam-zam, Ar-Rukn dan al-Maqam.” (Katsir, h.95,147, 209).
Itu artinya bahwa nenek moyang manusia adalah satu.
Nabi Ibrahim dilahirkan di Aur di sebuah wilayah yang terletak di Babilonia. Setelah diselamatkan Allah dari ujian Namrud, Ibrahim as. bersama kedua istrinya dan sepupunya, Luth, hijrah ke tanah yang diberkahi yaitu tanah air bangsa Kan’an/ Palestina di Baitul Maqdis (29: 26-27; 21: 71-73). Ketika Ibrahim a.s. tiba di tanah tersebut, 19 S.M., bangsa Kan’an tengah dipimpin oleh seorang raja yang shaleh bernama Sidiq/ Melkisedeq (Kejadian 14: 18).
Beliau a.s. pernah meninggalkan Palestina menuju Mesir ketika dilanda paceklik (Kejadian 12: 10) untuk kemudian kembali lagi ke Palestina hingga wafat dan dimakamkan di Al-Kholil (Hebron).
Sekembalinya dari Mesir, Ibrahim a.s. dikaruniai dua orang putra, Ismail dan Ishak. Menurut Kitab Kejadian: Ismail lahir dari Hajar ketika Ibrahim berusia 86 tahun (Kejadian 16:16). Sebenarnya Hajar adalah wanita merdeka, bukan seorang budak. Ia adalah anak dari Raja Mesir, Fir’aun (Syaikh Shafiyyur-rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah h.28). Sedang Ishak lahir dari Sarah ketika Ibrahim a.s. berusia 100 tahun (Kejadian 21:5).
Saat Ismail masih kecil, dia dan Ibundanya dibawa hijrah ke Makkah di Hijaz dan melahirkan keturunan besar dan menjadi bangsa Arab (14:37).
Sementara itu Ishak mempunyai putera bernama Yakub a.s. yang dikemudian hari mendapat gelar “Israel”. Karena itu penyebutan nama “Bani Israel” hingga saat ini dikaitkan dengan semua keturunan Yakub a.s. Dua belas anak Ya’qub ini adalah Rubin, Sya’maun, Levi, Zebulan, Yassakhar, Yahuda, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf dan Benyamin (Hermawati, M.A. Dra.)
Ishak, Yakub a.s. dan keturunannya tetap tinggal di negeri Kan’an. Sepeninggal Ishak, Yakub a.s. dan semua keturunannya pindah ke Mesir karena paceklik yang panjang melanda negeri Kan’an. Kepindahan Yakub a.s. bersama semua keluarganya yang berjumlah 70 orang dibawah jaminan putranya, Yusuf a.s., yang saat itu menjabat sebagai wazir kerajaan Mesir.
Keturunan Bani Israel di Mesir mengalami perkembangan cukup pesat dan hidup tenteram. Bangsa Heksus dari Asia yang baru menggulingkan Fir’aun ke-13 memberi kesempatan kepada mereka untuk berperan di kerajaan selama empat periode, mulai dari Fir’aun Heksus ke 14-17.
Menyusul wafatnya Yusuf a.s., kententeraman Bani Israel segera sirna. Keturunan Fir’aun ke-13 yang digulingkan merebut kembali kerajaan Mesir dari bangsa Heksus dan mendirikan pemerintahan Fir’aun ke-18 pada abad 16 S.M. Dendam mereka mencapai puncak ketika Ramses II (1301-1234 SM) (Shalaby, h.32) dari pemerintahan Fir’aun ke-19 naik tahta (Hafidz, h.35). Bani Israel dalam tekanan pembunuhan dan perbudakannya (2:49; 29:4; 14:6) hingga nabi Musa memimpin mereka keluar dari Mesir pada abad 13 S.M (1213 SM) untuk memasuki Kan’an atas petunjuk Allah (5:21) (Shalaby, h,33).
Akan tetapi sebagian besar umat Musa a.s. menolak perintah Allāh tersebut untuk masuk ke Kan’an karena di sana sudah ada penduduk yang memiliki kekuatan dan keberanian yang lebih besar (Jabariin). Sebagian di antara yang patuh menerima perintah Allāh adalah dua orang (5:21-25) yaitu Yusya bin Nun dan Kalib bin Yauqana (Bilangan 13:5-10).
Akibat penolakan itu Allah menghukum mereka dalam kesesatan di Padang Tih selama 40 tahun (5:26). Musa dan Harun a.s. wafat pada periode ini.
Yusya bin Nun kemudian diangkat sebagai nabi oleh Alloh melanjutkan kepemimpinan Musa a.s. atas Bani Israel. Di bawah kepemimpinannya bani Israel berhasil memasuki Palestina dari sungai Urdun kemudian menguasai benteng Ariha setelah mengepungnya selama enam bulan. Setelah menguasai Ariha, Yusya kemudian membebaskan Baitul Maqdis dan menetap di sana bersama umatnya.
Setiap kali nabi dari kalangan Bani Israel meninggal (dibunuh umatnya yang durhaka) selalu digantikan dengan nabi lain untuk memimpin mereka. Menurut Ibnu Jarir, sepeninggal Yusya bin Nun Bani Israel berturut-turut dipimpin oleh Kalib bin Yufana, Hizqil bin Budzi, Ilyas, Ilyasa (38:48), Syamuel (Syam’un)(2:246).
Pada masa Syamuel, Bani Israel menghadapi serangan raja Jalut. Atas petunjuk Allah, Syamuel menetapkan Thalut untuk memimpin Bani Israel menghadapi Jalut. Sebagian pemuka dari kalangan Bani Israel menolak Thalut karena raja harus dari keturunan Yehuda, sedang Thalut dari keturunan Bunyamin.
Jalut tewas ditangan salah seorang pasukan Thalut, yaitu Dawud . Setelah Syamuel dan Thalut meninggal, Allah menjadikan Dawud (1043-973 SM.) menggantikan kepemimpinan mereka sebagai Raja dan Nabiyullah (2:251).
Dawud a.s. wafat digantikan oleh Sulaiman a.s. (27:16) (985-932 SM.) yang memperluas hubungan hingga ke negeri Saba (Bilqis) di Yaman (27:42).
Dawud dan Sulaiman a.s tidak pernah mempunyai kekuasaan yang luas. Kerajaan mereka hanya merupakan lingkup kota yang dikelilingi desa-desa sekitarnya (Carr, 18) dari Dan sampai Bersyeba (Osman, 154). Seorang sejarawan Yahudi bernama Wells, menuliskan bahwa ketika sulaiman berada di puncak kejayaannya dia hanya memerintah sebuah kota kecil saja (Shalaby, h.52). Hanya kebiasaan pengikutnya menyebut pimpinan mereka dengan Raja (Carr, 18). Pegawai nabi Sulaiman yang bernama Yarbaam mengadakan pemberontakannya tetapi gagal dan melarikan diri ke Mesir. Dia kembali ke Palestina setelah nabi Sulaiman a.s. wafat (Raja-Raja I 12:3).
Saat nabi Armiya (Katsir, h.812) menggantikan Sulaiman a.s. Bani Israel mengalami kemerosotan moral luar biasa. Daerah kerajaan warisan Sulaiman a.s. terpecah menjadi dua kerajaan yang saling bermusuhan dan berperang: Utara-Israel dengan pusat di Samaria dipimpin oleh Yarbaam, dan Selatan-Yahuda di Yerusalem dipimpin keturunan Nabi Sulaiman Rahba’am 922 SM – 915 SM. (Shalaby, h.54).
Peringatan Alloh melalui Nabi Armiya tidak dindahkan, bahkan nabi Armiya dipenjarakan oleh umatnya. Maka kemudian Alloh menghukum mereka melalu kekuasaan dua raja, Thufan dan Nebukadznezar (Bukhtanashar).
Kerajaan Israel di Utara diserbu oleh raja Thufan dari Asyura tahun 721 S.M. dan membawa penduduknya untuk dijadikan budak.
Kerajaan Yehuda di Selatan diserbu raja Nebukadznezar dari Babilonia (17:4-5) pada tahun 586 S.M. Sepertiga dari penduduknya dibunuh, sepertiga ditawan dan dijadikan budak di Babilonia, sepertiga dibiarkan karena mereka adalah orang tua, wanita, anak-anak dan orang lemah. Benteng-benteng, masjid-masjid, juga Baitul Maqdis, dirusak dan dirobohkan, taurat dibakar.
Beda Bani Israel dan Yahudi
Orang Babil menamakan penduduk negeri yang diserbunya dengan “Yahudi”, sedang kepercayaan yang mereka anut sebagai agama Yahudi. Mulai saat itu nama Yahudi itu dikenakan kepada siapa saja yang menganut kepercayaan Yahudi, meskipun ia bukan keturunan Bani Israel. Itulah perbedaan Yahudi dan Israel.
Sejak kedua Negara-kota Israel dan Yehuda jatuh, maka boleh dikatakan tanah Palestina telah kosong dari orang-orang Bani Israel, karena meskipun pada tahun 538 S.M. raja Pesia Cyrus merebut Palestina dari Nubukdznezar dan memperbolehkan orang-orang Bani Israel kembali ke wilayah Palestina, mereka memilih untuk tinggal di tempat penawanan yang sudah memberikan kenyamanan dibanding di Palestina (Shalaby, h.60).
Akibat penyerbuan itu jadilah mereka sebuah bangsa yang terpencar-pencar (diaspora) ke berbagai Negara: Mesir, Babil, Hijaz yaitu di Yatsrib dan Wadil Qurra’.
Sebagian Bani Israel yang kembali ke Palestina, mencoba untuk membangun Baitul Maqdis (Katsir, h.816-818). Namun Iskandar Agung dari Macedonia menyerbu mereka dan menghancurkan Baitul Maqdis pada tahun 330 S.M.
Kemudian Palestina berturut-turut dikuasai bangsa Ptolemaic dari Syiria. Mereka mengusir Bani Israel dan menghapuskan seluruh pengaruhnya karena mencoba mengadakan pemberontakan yang dipimpin rahib Mattathias tahun 167 SM. Mattathias meninggal sebelum berhasil dan digantikan putranya, Maccabaeus tahun 160 SM juga tanpa hasil. Kemudian diteruskan Makkabi Aristobulus tahun 104 SM.
Setelah itu Penguasa Romawi pada masa Bampiyos/ Pompey pada tahun 63 S.M. dan kaisar Titus pada tahun 70 M. mengambil alih Palestina. Bahkan Titus memusnahkan kota Yerusalem dan menghancurkan Haikal yang dibangun pada zaman Cyrus (Shalaby, h.61-62).
Ketika kaisar Adrianus berkuasa di Yerusalem pada tahun 135M., Bar Kokhba memimpin orang-orang Yahudi melancarkan pemberontakan. Namun pemberontakan tersebut dapat digagalkan. Sebagai hukuman mereka dihancurkan kembali dengan dibunuh dan diusir. Yahudi lari ke Mesir, Afrika Utara, Spanyol, Eropa, Asia, Syam, Khaibar, Madinah, India, Cina, Habsyah (Hafidz, h.47).
Ketika tentara salib menduduki Yerusalem tahun 1099, orang Yahudi diganyang habis.
Pada tahun 1170 M seorang Yahudi dari Toledo bernama Benyamin melakukan kunjungan ke Yerusalem. Dia hanya menemukan 1440 orang Yahudi di seluruh Palestina (Garaudi, h.78).
Meskipun Sultan Shalahuddin pada tahun 1187 M memperkenankan Yahudi tinggal di Yerusalem namun Nahmanides pada tahun 1267 M hanya menemukan 2 keluarga saja di seantero Yerusalem (Garaudi, h.78).
Gen Bani Israel Sekarang
Setelah Bani Israel membaur, sangat sulit untuk menentukan keturunannya yang asli – murni. Namun secara mudah dapat kita simpulkan bahwa sebutan Yahudi adalah ditujukan kepada siapapun yang masih berpegang dengan ajaran Musa a.s. (Taurat) (Hafidz, h.16).
Buku-buku rujukan dan referensi sejarah dan ilmu anthropologi telah menyimpulkan bahwa keluarnya Bani Israel dari Mesir merupakan suatu pemisah antara zaman darah asli dan zaman darah campuran.
Sebagian mereka yang berdiaspora ke Eropa berbaur dengan unsur-unsur Syria dan Anatoli hingga mereka sampai ke pinggir sungai Rhine. Dari sana mereka menyebar ke Eropa dan Rusia. Beberapa waktu kemudian sebagian besar wilayah itu telah menganut agama Yahudi yang mereka bawa. Kaum Fulasya dari Ethiopia, Tzamil dari India, Haraz dari Turki (Shalaby, h.34-36).
Maka, sesungguhnya yang kita hadapi sekarang adalah Yahudi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bani Israel. Jika masih ada, maka mungkin bisa dihitung dengan jari.
Yahudi yang mencaplok Palestina sama tidak ada relasi dengan Palestina baik keturunan ataupun sejarah. Pemerintahan mereka di sebagian kecil wilayah Palestina tidak lebih dari 4 abad. Sementara pemerintahan Islam telah berlangsung di sana selama 12 abad (636-1917 M.). Yahudi yang berkuasa di Palestina sekarang adalah orang-orang Khazar (Kojar) yang mendiami wilayah Kokaz di Rusia selatan yang memeluk ajaran Taurat pada tahun 740 M.
Yahudi Khazar (Kojar) ini kemudian bermigrasi ke Eropa dan Amerika pada tahun 1881 M. setelah diusir oleh karena berusaha menggulingkan pemerintahan kaisar Rusia Alexander-Czar II. Mereka menghadapi ancaman antisemit karena mereka sangat tidak disukai oleh bangsa manapun, dimanapun (Shaleh, 28-30). sehingga komunitas mereka dikurung dalam pemukiman-pemukiman yang mengenaskan yang disebut Ghetto.
Para ahli genetika berpendapat bahwa kaum Yahudi sekarang yang menjajah Palestina adalah perkumpulan berbagai jenis ras (mix race) (Hafidz, h.51) yang dipersatukan oleh nasib dan watak khas. Akibat pembauran itu mereka menggunakan bahasa campuran antara Syiriak, Akidan dan Phinisian (Carr, h17). Bahasa yang kini dipakai untuk pembicaraan sehari-hari disebut bahasa Aramik (Shalaby, h.18).
Meskipun para arkeolog telah mengadakan penelitian diantara dua sungai besar Nil – Eufrat mereka tidak menemukan benda apapun yang membuktikan pernah ada kerajaan Israel seperti yang tertulis dalam Kitab 1 Raja-raja. Dan pasti, di antara mereka ada sekelompok orang yang tidak segan-segan melakukan distorsi sejarah yang sering tampil dalam program-program propaganda tertentu. Mereka berdiri di depan puing-puing tembok kuno untuk memaklumkan bahwa tembok tersebut dibangun pada masa kekuasaan Raja Dawud.
Bukti sejarah yang ada menunjukkan bahwa wilayah terluas yang dapat diwujudkan oleh bangsa Israel sepanjang sejarah adalah ketika mereka menduduki tanah Palestina, Dataran Tinggi Golan, Libanon Selatan, Sinai untuk pertama kalinya tahun 1967 (Osman, 154). Munif Nasir (L/Munif/R1/EO2)
Rujukan :
  1. Al-Qur’an, Digital, versi 3.1.
  2. Alkitab, Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia Ciluar-Bogor, 1991.
  3. Carr, William G., Yahudi Menggenggam Dunia, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, Cetakan Keenam Mei 2004.
  4. Osman, Ahmad, Israel, Siapa Mereka ?. Fima Rohdeta. Cetakan pertama Januari 2008. Judul asli: Tarikh al-Yahud juz I, Penerbit: Maktabah al-Syuruq.
  5. Hafidz, Muh. Ahmad Diyab Abdul, Menguak Tabir dan Konspirasi Yahudi. Pustaka Setia Bandung. Cetakan I – 2005. Judul asli: Adhwaa’u ‘ala Al-Yahudiyyah min Khilal Mashadiriha.
  6. Hermawati, M.A. Dra. Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi. Rajawali Pers.
  7. Shalaby, Ahmad, Perbandingan Agama Agama Yahudi. Bina Ilmu, Surabaya. Cetakan pertama 1990.
  8. Katsir, Ibnu. Qishashul Anbiya. Amelia, Surabaya. Cetakan Pertama, April 2008.
  9. Mubarakfury, Al- Syaikh Shafiyyur-rahman. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. 1997.
  10. Shaleh, Muhsin Muhammad. Palestina: Sejarah, Perkembangan dan Konspirasi. Gema Insani Press, Jakarta. Cetakan Pertama, Juni 2002.
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)