Daerah Rawan Konflik
Upaya menjaga “tradisi nenek moyang” menjadi bagian dari identitas terkuat bagi keluarga muslim Melayu di Thailand Selatan yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat Thai lainnya. Mereka menyadari bahwa niat memisahkan diri dari pemerintah Kerajaan Thailand hanyalah suatu mimpi lama, yang kini harus ditinggalkan.
Terintegrasi dengan Thailand, bersaing dengan mayoritas masyarakat etnis Thai yang Buddhis, adalah pilihan saat ini. Strategi yang perlu dibangun adalah memajukan pendidikan, mendukung pembangunan nasional, dan menjaga stabilitas lokal.
Hal yang terakhir masih menjadi kendala bagi penciptaan perdamaian di wilayah selatan. Berbagai teror, pembunuhan, dan pengeboman sering terjadi dalam tiga tahun terakhir, dengan jumlah meninggal setidaknya 2000 orang, sejak Januari 2004. Anehnya, belum ditemukan kelompok yang bertanggung jawab dalam kerusuhan ini.
Ketika terjadi penyerangan atau pembunuhan yang melibatkan korban tentara, polisi, atau masyarakat Buddha, yang dituduh adalah muslim. Bahkan Thaksin menyebut istilah “bandit muslim”. Istilah yang menodai perasaan muslim Melayu di selatan, karena pencitraan telah sengaja diciptakan oleh pemerintah, tanpa melihat lebih obyektif siapa yang terlibat.
Seperti halnya kaum minoritas di negara-negara yang lain, kawasan Thailand bagian selatan, yang merupakan basis masyarakat Melayu-muslim, adalah daerah konflik dan persengketaan wilayah dengan latar belakang ras dan agama yang berkepanjangan. Lebih-lebih ketika kerajaan Melayu dihapuskan pada tahun 1902, masyarakat melayu Patani dalam keadaan sangat tertekan. Khususnya pada pemerintahan Pibul Songgram (1939-44), orang Melayu-lah yang menjadi korban asimilasi kebudayaan. Bahkan sampai saat ini pun masyarakat muslim minoritas Patani Thailand masih menghadapi diskriminasi dan teror yang berlarut-larut. Kehidupan sosial maupun politik masih terganggu.
Konflik berkepanjangan di Thailand selatan tak ada bedanya dengan konflik minoritas muslim di Pulau Moro Filipina.
Sejak peristiwa pembunuhan massal di Masjid Kerisek di Patani dan Takbai di wilayah Menara (2004) dan di Masjid Al-Furqan di wilayah Menara (2009), tidak ada tempat umat Islam untuk mengadu. Kondisi inilah yang membuat gerakan-gerakan Pembebasan Patani Darusalam bangkit untuk melakukan perlawanan hingga detik ini.
Sayangnya, konflik umat Islam Patani tidak mendapat tempat dan perhatian dari dunia internasional, seperti Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), dan lembaga HAM dunia lainnya. Berbagai berita tragedi kemanusiaan di beberapa wilayah, mulai dari Narathiwat, Patani, hingga Yala, pun selalu diredam, tak pernah diberitakan dalam media-media lokal di Thailand, Malaysia, bahkan internasional.
Perlu adanya perhatian yang lebih dari semua umat Islam untuk membantu mereka, secara materiil maupun moril.
Penandatanganan Kesepakatan
Muslim di Thailand mempunyai sejarah tersendiri yang bisa dibilang tragis dan berliku. Mulai dari abad ke-13, ketika agama Islam menapakkan kakinya di Kerajaan Patani dan kemudian menjadi mayoritas di wilayah tersebut.
Masyarakat muslim Thailand saat ini telah menjadi bagian integral dari keseluruhan pemerintahan dan komunitas Thailand dari beberapa abad yang lalu. Secara historis, kultur, dan ekonomi, masyarakat minoritas muslim di Thailand selatan telah mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu. Akan tetapi mereka tetap berusaha menjadi bagian komunitas yang dipahami.
Hal itu berangkat dari latar belakang masyarakat muslim sendiri, yaitu komunitas Melayu Patani yang dari awalnya berdiri sendiri dan kemudian dikuasai oleh Siam atau Thailand. Saat ini, ketika modernisme merambah semua negara dan Thailand menjadi negara demokrasi, muslim Thailand mulai dipandang positif oleh komunitas yang lainnya.
Kondisi tersebut memunculkan era baru antara muslim dan pemerintah yang memberikan ruang lebih luas bagi umat Islam Thailand merambah dunia politik dan ekonomi. Hal ini tampak dari pertumbuhan masjid di Thailand yang berkembang pesat: Bangkok 159 masjid, Krabi 144 masjid, Narathiwat 447 masjid, Patani 544 masjid, Yala 308 masjid, Songkhla 204 masjid, Satun 147 masjid, dan beberapa masjid di berbagai kota di Thailand.
Meski demikian, minoritas muslim Thailand masih jauh dari kelapangan dalam hidup, karena mereka tetap menjadi minoritas yang kerap mendapat tekanan dan diskriminasi, hingga sekarang.
Meskipun secara umum situasi Patani tampak tenang, ini seakan merupakan bom waktu yang siap meledakkan potensi konflik terbuka setiap saat. Masyarakat Patani yang hidup dalam ketakutan (mirip suasana Aceh yang agamais pada masa Daerah Operasi Militer) oleh pengawasan dari militer Thailand. Kehidupan pun berjalan seperti penuh dengan kewaspadaan akan terjadi pertikaian-pertikaian baru.
Baru-baru ini, 28 Februari 2012, digelar penandatanganan kesepakatan antara muslim Patani dan pemerintah Thailand. Pihak muslim Patani diwakili Hassan Taib, wakil senior Barisan Revolusi Nasional (BRN), sedangkan pihak Thailand diwakili Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand, Letnan Jenderal Paradorn Pattanathabutr. Hassan Taib oleh International Crisis Group dianggap tokoh berpengaruh dalam masyarakat muslim Patani yang berdomisili di Malaysia.
Kesepakatan awal tersebut, yang membicarakan tema perdamaian di Thailand Selatan, merupakan suatu langkah yang bersejarah, khususnya bagi muslim Patani. Semoga tak ada lagi nyawa manusia yang harus dikorbankan. (Majalah Alkisah)
|
Selasa, 16 Desember 2014
Islam di Patani, Thailand Selatan : Negeri Islam yang Hilang (Bagian 2/Tamat)
Islam di Patani, Thailand Selatan : Negeri Islam yang Hilang (Bagian 1)
Pattani adalah salah satu provinsi di selatan Thailand. Patani terletak di Semenanjung Melayu dengan pantai Teluk Thailand di sebelah utara. Di bagian selatannya terdapat gunung-gunung dan taman negara Budo-Sungai Padi yang berada di perbatasan Provinsi Yala (Jala) dan Narawitha (Menara). Di sini, juga terdapat beberapa tumbuhan unik seperti Palma Bangsoon dan rotan Takathong. Di kawasan perbatasan dengan Songkhla dan Yala, terdapat pula taman rimba yang terkenal dengan air terjunnya, Namtok Sai Khao.
Memperbincangkan Islam di Patani, sungguh telah terbentang sejarah panjang. Dulu, Patani adalah sebuah kerajaan Melayu Islam berdaulat, mempunyai kesultanan tersendiri. Namun, pada pertengahan abad ke-19, Patani menjadi korban penaklukan Kerajaan Siam (Thailand).
Penaklukan Siam terhadap Patani tahun 1962, mendapat pengakuan Britania Raya. Untuk mengukuhkan kedudukannya di Patani, di tahun 1902, Kerajaan Siam melaksanakan undang-undang Thesaphiban. Dengan ini, sistem pemerintahan kesultanan Melayu telah dihapuskan. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Bangkok tahun 1909, Patani diakui Britania sebagai bagian dari jajahan Siam walaupun tanpa mempertimbangkan aspirasi penduduk asli Melayu Patani.
Patani adalah satu dari empat provinsi Thailand yang mempunyai mayoritas penduduk beragama Islam (80%). Nama Patani sendiri berasal dari bahasa Melayu logat setempat, yakni “Pata” (pantai) dan “Ni” (ini). Patani juga berasal dari bahasa Arab yang artinya “kebijaksanaan” atau “cerdas”, karena di sana tempat lahirnya banyak ulama dan cendekiawan dari berbagai golongan dari tanah Melayu (Jawi). Patani juga dikenal sebagai Serambi Makkah yang juga disebut “Fattani Darussalam”.
Penyerahan “Bunga Emas”
Daerah yang sekarang disebut Thailand selatan pada masa dahulu berupa kesultanan-kesultanan yang merdeka dan berdaulat. Di antara kesultanan yang terbesar adalah Patani.
Muslim Patani hidup di empat wilayah selatan Thailand, yaitu Narathiwat, Patani, Songkhla, dan Yala. Mereka orang Melayu yang menjadi minoritas di negeri Thailand, tapi mayoritas di wilayah bagian selatan. Umat Islam Patani ini disebut khaek (tamu), yang berarti orang asing, bukan penduduk asli. Predikat itu disertai penjajahan struktural maupun kultural.
Thailand Selatan sejatinya memang tidak senapas dengan Thailand secara keseluruhan. Sebelum abad XV, Provinsi Patani, Yala, Narathiwat, dan Satun berada di bawah naungan Kesultanan Patani yang diperebutkan oleh Kerajaan Siam di utara dan Kesultanan Malaka di selatan. Walau secara budaya dekat dengan Malaka, secara politik Patani di bawah pengaruh Siam.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511, membuat Patani harus menyerahkan ”bunga emas’’ atau upeti kepada Siam agar wilayahnya tidak diganggu. Namun simbol penyerahan upeti ini dianggap Siam sebagai penyerahan kedaulatan.
Kemudian, lemahnya Siam, terlebih setelah diserbu oleh pasukan Burma, membuat Patani kemudian tak lagi menyerahkan upeti.
Pada abad keempat belas, masuklah Islam ke kawasan itu, raja Patani pertama yang memeluk Islam ialah Ismailsyah. Pada 1603 Kerajaan Ayuthia di Siam menyerang Kerajaan Patani namun serangan itu dapat digagalkan.
Pada 1783 Siam pada masa raja Rama I Phra Culalok menyerang Patani dibantu oleh oknum-oknum orang Patani sendiri, Sultan Mahmud pun gugurlah, meriam Sri Patani dan harta kerajaan dirampas Siam dan dibawa ke Bangkok.
Maka Tengku Lamidin diangkat sebagai wakil raja atas perintah Siam tetapi kemudian ia pun berontak lalu dibunuh dan digantikan Dato Bangkalan, tetapi ia pun memberotak pula.
Pada masa raja Phra Chulalongkorn tahun 1878 M Siam mulai mensiamisasi Patani sehingga Tengku Din berontak dan Kerajaan Patani pun dipecahlah dan unit kerajaan itu disebut Bariwen.
Sebelum peristiwa itu terjadi sesungguhnya pada 1873 M Tengku Abdulqadir Qamaruzzaman telah menolak akan penghapusan Kerajaan Patani itu. Kerajaan Patani dipecah dalam daerah-daerah kecil Patani, Marathiwat, Saiburi, Setul, dan Jala.
Tahun 1902 Patani bersama Kedah, Perlis, Kelantan, dan Trengganu resmi di bawah kekuasaan Siam. Perjanjian Siam-Inggris tahun 1909 memaksa Siam menyerahkan semua daerah di atas kepada Inggris kecuali Patani.Inggris pun mengakui bahwa daerah-daerah itu termasuk kawasan Kerajaan Siam.
Pada 1923 M, beberapa madrasah Islam yang dianggap ekstrem ditutup, dalam sekolah-sekolah Islam harus diajarkan pendidikan kebangsaan dan pendidikan etika bangsa yang diambil dari inti sari ajaran Buddha.
Tahun 1933 Siam membagi Patani menjadi tiga provinsi, Narathiwat, Patani, dan Yala. Dan pada tahun 1939 M, Nama Siam diganti dengan “Muang Thai”. Bahasa Siam menjadi bahasa kebangsaan di kawasan Selatan, di sekolah-sekolah merupakan bahasa resmi, tulisan Arab Melayu digantikan tulisan Siam yang berasal dari Palawa.
Sebatas Adat
Jumlah umat Islam keseluruhan di Patani lebih dari 3 juta jiwa, sedangkan mayoritas penduduk Thailand beragama Buddha. Kaum muslim di Thailand sendiri terbagi menjadi dua bagian. Muslim Melayu dan muslim non-Melayu, dengan persentase 80%: 20%.
Hingga saat ini, 80% (sekitar 2,6 juta) penduduk ketiga provinsi ini menganut agama Islam, berbudaya dan berpakaian Melayu, dan menggunakan bahasa Melayu Jawi sebagai bahasa ibu. Namun, ekspresi spiritual dan budaya mereka senantiasa terancam.
Pada saat-saat tertentu anak-anak sekolah pun harus menyanyikan lagu-lagu bernapaskan Buddha dan kepada guru harus menyembah dengan sembah Buddha. Kementerian pendidikan memutar balik sejarah: dikatakannya bahwa orang Islam itulah yang jahat ingin menentang pemerintahan sah di Siam dan menjatuhkan raja.
Orang-orang Islam tidak diperbolehkan mempunyai partai politik yang berasas Islam, bahkan segala organisasi pun harus berasaskan kebangsaan. Pemerintah pun membentuk semacam pangkat mufti yang dinamakan “Culamantri”.
Pada saat-saat tertentu dipamerkan pula segala persenjataan berat, alat-alat militer. Lalu mereka mengundang ulama untuk melihat-lihat, dengan harapan akan tumbuh rasa takut untuk berontak. Akan tetapi orang-orang yang teguh dalam keislamannya itu tetap berjuang untuk menegakkan sebuah negeri yang berdaulat berasas Islam, Republik Islam Patani.
Segala upacara yang sekuler dikerjakan dan Islam hanya terbatas pada adat, partai-partai pun tidak mau berdasarkan Islam dan tetap sekuler walaupun adat agama adakalanya dibawa juga seperti salam dan bismillah seperti tercantum dalam konstitusinya itu.
Transformasi dari loyalitas primordial ke loyalitas kepada negara dalam rangka menciptakan intergrasi nasional biasanya merupakan agenda utama di negara-negara yang proses perwujudan gagasan negara-negaranya belum selesai.
Agenda ini menjadi sangat pelik apabila negara bersangkutan plural dalam etnis, budaya, dan agama. Berdasarkan kategori primordial itu, negara tersebut memiliki kelompok mayoritas dan minoritas, kelompok minoritas hendak dipaksa untuk diintegrasikan ke dalam kelompok mayoritas. (Majalah Alkisah)
|
Jumat, 12 Desember 2014
Hijab Bunda Maria Bertuliskan ‘Laa Ilaaha Illallah’
Foto : flickr.com
Ini bukan cerita bualan alias “hoaks”. Dalam sebuah lukisan, sosok Bunda Maria sang Perawan Suci dalam agama Kristiani memang begitu anggun dengan baju kebesarannya, pun dengan hijab yang selalu bergelayut di kepalanya. Namun dalam lukisan yang satu ini, anda akan dibuat terperangah hebat oleh inskripsi arab yang terdapat di tepian hijab yang dikenakan Bunda Maria.
Penjelasan Buya Yahya Soal Ucapan Selamat Natal dan Toleransi
Jelang perayaan natal umat kristiani, ramai diperbincangkan bagaimana hukumnya seorang muslim mengucapkan selamat natal dan mengikuti perayaannya. Para ulama berpendapat tegas haram, namun ada segelintir orang yang membolehkan atas nama 'toleransi'. Bagaimana pandangan Buya Yahya soal ini? Berikut penjelasan ulama kharismatik asal Cirebon itu.
Menurut Buya, natal itu adalah perayaan kelahiran Yesus yang dianggap sebagai Tuhan, jika kita mengucapkan selamat berarti ikut mengukuhkan Yesus yang dianggap Tuhan oleh umat kristiani.
"Inilah permasalahan yang perlu dijelaskan supaya kita tidak ikut-ikutan. Jangan sampai terjebak dengan dalih toleransi yang sesungguhnya itu bisa merusak akidah dan keimanan kita. Jangan main-main, karena derajatnya bisa kafir dalam menyatakan ini," tegas Buya.
Pimpinan Ponpes Al Bahjah Cirebon ini menambahkan, Islam sangat menghargai orang diluar Islam tapi masalah keyakinan tidak boleh dicampuradukkan.
"Tidak ada dalam Islam yang namanya toleransi beragama, yang ada ialah kewajiban menghormati agama diluar islam. Kita harus jadi tetangga yang baik buat mereka, jika mereka bertamu harus kita hormati, kalau mereka lapar kita wajib membantu, kalau mereka sakit kita harus mengunjungi, itu semua diperintahkan oleh Rasul Saw dan ini bukan toleransi tapi kewajiban. Inilah kebenaran dalam Islam," jelas Buya.
Namun, kata Buya, selain ada kewajiban, ada juga hal-hal yang tidak boleh dilanggar. "Misalnya kita tidak boleh menikahkan anak dengan tetangga yang berbeda agama, itu aturan Islam dan orang diluar Islam harus memahami itu. Bahkan jika di agama lain ada aturan yang semacam itu, orang Islam juga harus memahami dan tidak boleh tersinggung," kata Buya.
"Jadi dalam setiap agama ada kewajiban dan larangan yang harus dipegang dan dihormati, namun karena hal ini tidak direnungi akhirnya jadi pada emosi," tambahnya.
"Wahai orang kristen, umat Islam juga punya hari raya idul fitri, idul adha, kami juga punya peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pernahkah ada fatwa dari umat Islam bahwa siapa saja orang Kristen yang tidak mengucapkan selamat hari raya idul fitri, idul adha, dan maulid itu salah, tidak toleran. Tidak ada, kami tidak menuntut kalian untuk mengucapkan selamat kepada kami karena itu urusan masing-masing agama,"
Menurut Buya, jika pandangan seimbang seperti ini insyaallah akan ada kelembutan hati. Dan munculnya reaksi selama ini justru dari ustaz aneh, ustaz yang sakit, yang membolehkan ucapan selamat natal.
"Ketahuilah, disaat orang nasrani mengadakan natalan mengukuhkan Tuhan Yesus itu artinya merendahkan Allah Swt Tuhan kita, dan anda punya Tuhan Allah direndahkan lalu anda mengucapkan selamat wahai orang nasrani atas penghinaan terhadap Tuhanku, inikan sakit namanya. Coba tolong direnungi," jelas Buya.
Soal saling menghormati dengan orang yang beda keyakinan, Buya punya pengalaman. Ia bercerita, beberapa tahun lalu ketika perayaan maulid berdekatan dengan natal, Buya pernah mengundang kenalannya yang kristen untuk mengikuti perayaan maulid, namun kenalannya menolak hadir karena tidak mengakui nabi Muhammad Saw. Buya menghormati itu, dan tidak marah karena itulah makna kebersamaan. Setelah itu saat perayaan natal, kepada kenalannya itu Buya mengatakan bahwa ia tidak akan mengucapkan selamat natal dan tidak akan datang ke acara natal bahkan ia katakan haram. Kenalannya menjawab tidak mengapa karena Buya kan tidak percaya bahwa Yesus itu Tuhan. Dua-duanya saling memahami tanpa timbul permusuhan.
"Itulah fatwa dia yang saya pegang selama ini, bahwa mengatakan haram soal natal kepada orang kristen itu tidak membuat marah. Justru yang marah itu orang-orang Islam liberal, sekuler, dan picisan itu," tandas Buya.
Sekali lagi Buya berpesan, dalam soal agama itu tidak boleh ikut-ikutan. Jadi jelas, bagi umat Islam bahwa mengucapkan natal, ikut merayakan natal dan ikut perayaan tahun baru masehi itu jelas haram, dan kalau meyakini yesus itu tuhan maka murtad hukumnya. Inilah dalil yang benar dijelaskan para ulama-ulama sholeh terdahulu, jadi tidak perlu basa-basi dan ragu.
"Kalaupun kita memakai istilah toleransi, toleransi itu maknanya bukan menuntut orang harus ikut kita. Tetapi toleransi itu jika orang tidak bisa ikut kita, kita memahaminya. Toleransi itu jika anda tidak sama dengan saya maka saya maafkan, disaat anda tidak mengucapkan selamat hari raya idul fitri maka saya maafkan karena anda tidak meyakini hari raya saya. Sebaliknya, kalau saya tidak mengucapkan selamat natal anda tidak boleh marah, jika anda marah karena menuntut harus mengikuti maunya anda berarti anda tidak mengerti toleransi," pungkas Buya. (SI Online)
Kamis, 11 Desember 2014
Telah Ditemukan Naskah Al-Qur’an Tertua
Para peneliti di Jerman telah menemukan sebuah naskah Al-Qur’an yang ditulis antara 20 hingga 40 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menjadi penemuan salah satu salinan tertua kitab suci umat Islam yang pernah ada, lapormedievalists.net pada Senin (17/11/2014).
Para pakar di Proyek Coranica, bagian dari Universitas Tübingen, memeriksa naskah yang ditulis dalam huruf Kufi, salah satu bentuk tulisan Arab tertua itu. Menggunakan karbon-14 pada tiga sampel perkamen naskah, para peneliti itu menyimpulkan bahwa kemungkinan naskah Al-Qur’an tersebut lebih dari 95 persen berasal pada periode 649-675 Masehi.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diperkirakan hidup antara tahun 570 hingga 632 Masehi, sementara Al-Qur’an ditemukan serta diperkenalkan ke dunia antara tahun 610 dan 632 Masehi.
Naskah itu merupakan salah satu dari lebih dari 20 fragmen huruf Kufi yang disimpan oleh Perpustakaan Universitas Tübingen. Konten khusus itu disumbangkan ke universitas tersebut pada abad ke-19.
Seluruh naskah tersebut sudah didigitalkan dan dapat dilihat di sini.
Proyek Coranica, kolaborasi antara the Académie des Inscriptions et Belles-Lettres Paris dan the Berlin-Brandenburgischen Academy of the Sciences and Humanities, itu disponsori oleh Yayasan Penelitian Jerman atauGerman Research Foundation (DFG) dan France’s Agence Nationale de la Recherche (ANR).
Proyek ini meneliti Al-Qur’an dalam konteks latar belakang sejarahnya dengan menggunakan dokumen-dokumen seperti naskah-naskah dan informasi yang diperoleh dari penggalian arkeologi. (arrahmah.com)
Kamis, 04 Desember 2014
Ustaz Yusuf Mansur: Jaga Akidah, Toleransi Bukan Berarti Pakai Atribut Natal
Dai kondang Ustaz Yusuf Mansur, mengingatkan umat Islam untuk tetap menjaga akidah dalam bertoleransi saat perayaan natal yang sebentar lagi akan dilaksanakan umat Nasrani.
"Bukanlah juga sikap intoleran ketika kita memilih tidak ikut mengucapkan. Kan ga harus juga mengucapkan. Banyak cara lain," ujarnya mewanti-wanti. "Misal, telepon kawan yang Kristiani, 'makan-makan yuuukkk...', di hari Natalnya mereka. Ini lebih cakep. Ga ada urusan sama akidah, dan gak jadi panjang." kata Ustaz Yusuf Mansur melaui akun Twitternya, Kamis (4/12/2014).
Saran lain, senyumlah kepada mereka yang merayakan Natal. Saat bertemu, ucapkan... "Wuih, asyik. Makasih ya. Jadi bisa ikut libur, he he he. Rencana ke mana niiiy...?" Dia melanjutkan, "perasaan kejaga, emosi kejaga, pertemanan kejaga, akidah pun, kejaga. Banyak cara." kata pengasuh Ponpes Daarul Quran ini.
Ia juga merasa miris lantaran karena ekonomi umat sedang diuji, akhirnya kawan-kawan sesama Muslim, yang sedang bekerja di tempat-tempat publik, terpaksa pakai atribut Natalan. "Menurut saya, ini bukan bentuk toleransi juga. Sangat cukup kita tidak mengganggu umat lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan sampai begini," ujarnya.
Ia melanjutkan, saat mereka kebaktian, tidak mengapa menjaga mereka kebaktian. Bila tugasnya memang sekuriti, misalnya. Tapi, lanjut dia, tidak perlu juga memakai topi Natalan.
Pun ketika datang hari Nyepi bagi umat Hindu ia memberi saran. "Perlu ga sih misalnya kita memakai atribut pakaian Hindu? Cukup kita jangan berisik, jangan mengganggu. Hormati mereka yang lain, hargai mereka yang lain, tapi please, jangan berusaha jadi mereka. Mereka adalah mereka. Kita adalah kita. Di urusan lain, kembali sama-sama." tandasnya. (SI Online)
Selasa, 18 November 2014
Imam Al-Bushiri, Sang Pengarang Qosidah Burdah
Qashidah Burdah memang selalu didengungkan oleh para pecintanya setiap saat. Di berbagai negeri Islam, baik di negerinegeri Arab maupun ‘ajam (non-Arab), ada majelis-majelis khusus untuk pembacaan Burdah dan penjelasan bait-baitnya. Tak henti-hentinya muslimin di seluruh penjuru dunia menjadikannya sebagai luapan kerinduan pada Nabi.
Di Hadhramaut dan banyak daerah Yaman lainnya diadakan pembacaan qashidah Burdah setiap subuh hari Jum’at atau ashar hari Selasa. Sedangkan para ulama Al-Azhar di kota Mesir banyak yang mengkhususkan hari Kamis untuk pembacaan Burdah dan mengadakan kajian. Sampai kini masih diadakan pembacaan Burdah di masjid-masjid besar di kota Mesir, seperti Masjid Imam Al-Husain, Masjid As-Sayyidah Zainab. Di negeri Syam (Syiria) majelis-majelis qashidah Burdah juga digelar di rumah-rumah dan di masjid-masjid, dan dihadiri para ulama besar. Di Maroko pun biasa diadakan majelis-majelis besar untuk pembacaan qashidah Burdah dengan lagu-lagu yang merdu dan indah yang setiap pasal dibawakan dengan lagu khusus.
Burdah tak hanya indah kata-katanya, tapi doadoanya juga memberi manfaat pada jiwa. Karena itu tak mengherankan jika banyak ulama memberikan catatan khusus tentang Burdah, baik dalam bentuk syarah (komentar) maupun hasyiyah (catatan kaki atau catatan pinggir). Sangat banyak karya syarah atas Burdah yang tak diketahui lagi siapa pengarangnya.
Qashidah Burdah adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya sajak sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga kini Burdah masih sering dibacakan di berbagai pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Banyak pula yang menghafalnya. Karya itu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Indonesia/Melayu, Inggris, Prancis, Jerman, Italia.
Pengarang qashidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/1213-1296 M). Nama lengkapnya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri. Selain menulis Burdah, Al-Bushiri juga menulis beberapa qashidah lain. Di antaranya Al-Qashidah Al-Mudhariyah dan Al-Qashidah Al-Hamziyah.
Al-Bushiri adalah keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko, dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Ia murid sufi besar Imam Asy-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abul Abbas Al-Mursi, tokoh Tarekat Syadziliyah. Di bidang fiqih, Al-Bushiri menganut Madzhab Syafi‘i, madzhab fiqih mayoritas di Mesir.
Di masa kecilnya, ia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Quran, di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian ia belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusastraan Arab, ia pindah ke Kairo. Di sana ia menjadi seorang sastrawan dan penyair yang andal. Kemahirannya di bidang syair melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.
Di dalam qashidah Burdah diuraikan beberapa segi kehidupan Nabi Muhammad SAW, pujian terhadap beliau, cinta kasih, doa-doa, pujian terhadap Al-Quran, Isra Mi’raj, jihad, tawasul, dan sebagainya. Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Al-Bushiri tidak saja telah menanamkan kecintaan umat Islam kepada nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral, kepada kaum muslimin. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika qashidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf.
Al-Burdah, menurut etimologi, banyak mengandung arti, antara lain baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bisa dibedakan dengan pejabat negara lainnya, temanteman, dan masyarakat pada umumnya. Burdah juga merupakan nama qashidah yang digubah oleh Ka‘ab bin Zuhair bin Abi Salma yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW.
Ada sebab-sebab khusus dikarangnya qashidah Burdah. Suatu ketika Al-Bushiri menderita sakit lumpuh sehingga tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Lalu dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’atnya. Di dalam tidurnya, ia mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi mengusap wajah Al-Bushiri, kemudian beliau melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh Al-Bushiri. Saat ia bangun dari mimpinya, seketika itu juga ia sembuh dari lumpuhnya.
Al-Bushiri adalah seorang yang menjalani kehidupan sebagaimana layaknya para sufi, yang tercermin dalam kezuhudannya, ketekunannya beribadah, serta ketidaksukaannya pada kemewahan dan kemegahan duniawi. Di kalangan para sufi, ia termasuk dalam jajaran sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh Al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jawharat al-Awliya’, bahwa Al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya.
Makamnya yang terletak di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih diziarahi orang. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abul Abbas Al-Mursi.
Untuk mencintai kekasih, apalagi beliau itu adalah kekasih Tuhan, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam, sebagaimana tertera dalam Kitabullah, “Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormatnya salam.” (QS 33: 56).
Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada nabi-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Tuhan dikekalkan.
Dalam surah yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan, “Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” Allah tak pernah memanggil namanya langsung, seperti “hai Muhammad”, melainkan “hai Nabi”, “hai Rasul”, “hai pria yang berselimut”. Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap diri beliau? Seorang nabi yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai “pencurah rahmat bagi seluruh alam semesta”. Seperti diharapka beliau dalam banyak hadits agar kaumnya banyak menyebut namanya.
“Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku,” sabdanya. Bahkan dianjurkan agar umat Islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum’at. Seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Muhammad SAW akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat…..subhanallah….









